Sunday, March 28, 2021

PERKEMBANGAN TRADISI KEILMUAN (IDI BAB 2)

 A.  Pasang Surut Perkembangan Ilmu

1. Periode Yunani Kuno

    Menurut Bertrand Russel, diantara semua sejarah, tak ada yang begitu mencengangkan atau begitu sulit diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Memang banyak unsur peradaban yang telah ada ribuan tahun di Mesir dan Mesopotamia. Namun unsur-unsur tertentu belum utuh sampai kemudian bangsa Yunanilah yang menyempurnakannya.

    Pada zaman ini banyak bermunculan ilmuwan yang terkemuka. Di antaranya adalah Thales (624-545 SM),  Pythagoras (580 SM–500 SM), Aristoteles (384 SM- 322 SM) dan masih banyak lainnya.

2. Periode Islam

    Majunya Islam dalam perkembangan ilmu melahirkan ilmuwan ilmuwan yang mempengaruhi dunia atas temuanya, seperti Ibnu Shina dengan dua karyanya yang berpengaruh ialah ensiklopedia filsafat Kitab al-Shifa’ (The Book of Healing) dan The Canon of Medicine. Keduanya kini dipakai sebagai standar ilmu medis di seluruh dunia. Kemudian ada Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi yang menemukan algoritma dan sistem penomoran. Al-Khawarizmi juga dikenal ahli di berbagai bidang, seperti astrologi dan astronomi. Ibn Al Haytham, karyanya Kitab al-Manazir (Book of Optics) yang hingga kini diakui sebagai rujukan ilmu optik.Dan masih banyak ilmuwan muslim lainnya lagi yang berhasil mempengaruhi dunia.

B. Tradisi Keilmuan Di Dunia Islam

    Sistem pendidikan dan situasi zaman yang bersangkutan sangat berpengaruh. Kenyataannya, umat Islam kini mulai mencari alternatif sistem pendidikan yang efektif, tidak menghabiskan waktu belasan tahun untuk mempelajari terlalu banyak bidang ilmu sekaligus mampu memaksimalkan kemampuan peserta didik.

    Pokok pendidikan adalah tauhid, menanamkan nilai-nilai tauhid dalam jiwa setiap individu Muslim. Pada periode Makkah, proses pendidikan belum berlangsung optimal. Pendidikan berlangsung di rumah Abul al-Arqam secara sembunyi-sembunyi. Setelah masyarakat Islam terbentuk di Madinah, barulah pendidikan Islam dapat berlangsung terbuka. Masjid-masjid didirikan, sekaligus dijadikan pusat kegiatan pendidikan dan dakwah.

    Pendidikan tauhid menempati peringkat utama, kemudian akhlak, ibadah, linguistik, syair, ilmu kesehatan, dan lain-lain. Pada masa Umar bin Khattab, sistem pendidikan lebih maju karena dilakukan dalam keadaan stabil. Selain masjid sebagai pusat pendidikan, juga dibentuk pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota. Pusat-pusat pendidikan pada masa Khulafaur Rasyidin, antara lain, Makkah, Madinah, Basrah, Kufah, dan Syam.

C. Kontribusi Dunia Islam

    Sebuah fakta sejarah yang menyatakan dengan tegas bahwa semua kejayaan peradaban Barat tidak pernah luput dari jasa dan kontribusi besar para ilmuwan Muslim pada abad pertengahan. Dulu, para ilmuwan Muslim seperti al-Biruni, Ibnu Sina, al-Battani, dan lainnya telah terlebih dulu mewarnai dunia ilmu pengetahuan. Mereka banyak menguasai ilmu kedokteran, perbintangan, perhitungan, hadis, fikih, dan masih banyak lagi. 

    Berikut beberapa kontribusi intelektual Muslim dalam peradaban dunia di berbagai bidang : 

1. Astronomi

    Astronomi atau ilmu falak adalah salah satu bidang ilmu yang paling digemari oleh para ilmuwan Muslim selain matematika. Hal ini disebabkan karena kedua bidang ilmu tersebut sangat mendukung peribadatan Islam, seperti dalam menentukan awal dan akhir bulan Ramadhan, hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan sebagainya.

2. Matematika

    Ilmu matematika dalam bahasa Arab disebut aljabar (perhitungan), sedangkan istilah algoritme adalah berasal dari nama penemunya yaitu al-Khawarizmi. Ia merupakan salah satu ahli matematika Muslim terkenal di masa khalifah al-Mamun. Ia menulis buku aljabar.

3. Fisika

    Ilmu fisika juga berhubungan erat dengan ilmu astronomi. Sehingga karya-karya tentang optik yang ditemukan oleh Hassan Ibn Haitam (965-1039 M) dijadikan dasar bagi bangunan ilmu fisika, yakni dasar bagi Bacon dan Kepler dalam penemuan teropong, teleskop maupun mikroskop dan dasar dari fotografi.

4. Kimia

    Meskipun bangsa Yunani telah mengenal sejumlah zat kimia, namun mereka tidak tahu apa-apa mengenai subtansi unsur-unsur zat kimia, seperti: alkohol, asam sulfur, maupun asam nitrat. Orang Arablah yang menemukan itu semua, yang bersamaan dengan penemuan potasium, asam amoniak, nitrat perak, dan merkuri.

5. Ilmu Hayat

    Dalam bidang ilmu hayat, bangsa Arab tidak berpuas diri dengan hasil dari penerjemahan karya-karya bangsa Yunani. Bangsa Arab pun melakukan kajian dan observasi sendiri secara intensif. Sehingga tidak heran jika mereka berhasil memperkaya daftar macam-macam tumbuhan yang tercantum dalam Daftar Dioscorides yang berisi sekitar 2000 spesies.

6. Ilmu Kedokteran

    Salah seorang ahli kedokteran Muslim yang sangat terkenal di dunia Barat adalah Abu Ali al-Hussein bin Abdallah ibn Sina, yang lebih dikenal sebagai Ibnu Sina atau Avicenna. Bukunya yang berjudul al-Qanun fi at-Tib atau petunjuk tentang kedokteran.

7. Filsafat

    Ibn Sina atau Avicenna juga merupakan seorang ahli filsafat. Ia telah membentuk sistem keilmuan dan pandangan filsafat skolastiknya secara gamblang.

8. Sastra

    Para ilmuwan Muslim juga memberikan kontribusi yang besar terhadap dunia Barat di bidang sastra. Hal ini terbukti dari hasil kajian Asian Palacios atas karya-karya surealism dalam Islam dan atas buku La Devina Comedia karya Dante Aleghery yang menyimpulkan bahwa Dante telah mendapat pengaruh yang besar dari karya mistik Muhyidin ibn Arabi maupun penyair buta Abul Ala al-Maari.

9. Geografi dan Sejarah

    Masyarakat Arab dikenal gemar mengarungi pulau maupun benua untuk berdagang. Karena itu mereka harus menguasai geografi maupun sejarah setiap kawasan yang akan dijelajahi. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk menekuni ilmu-ilmu geografis maupun sejarah. Dalam bukunya yang berbahasa Inggris berjudul Golden Pastures, Hasan Ali al-Masudi memaparkan gambaran lengkap tentang setiap negeri yang pernah dikunjunginya pada pertengahan abad ke-10.

10. Sosiologi dan Ilmu Politik

    Ibn Khaldun (1332-1406 M) merupakan pemikir filsafat sosiologi dan sejarah yang terkenal dalam peradaban Islam. Salah satu bukunya yang disebut sebagai Prolegomena membahas refleksi umum sejarah manusia dan berbagai macam peradaban manusia sebagai hasil dari perbedaan iklim, kehidupan kaum pengembara maupun yang telah menetap dan istiadat atau latar belakang peradaban yang berbeda, termasuk kelembagaan sosial, ilmu pengetahuan dan seni yang mereka kembangkan.

11. Arsitektur dan Seni Rupa

    Arsitektur Muslim tampak dalam bentuk istana maupun masjid yang gemerlapan yang di kemudian hari berpengaruh pada seni bangunan gereja pada abad pertengahan di Eropa. Seperti pengaruh arsitektur masjid di Cordova terhadap gereja katedral Notre Dane du Puy dalam wujud lengkungan susun tiga, cuping ganda, lengkungan sepatu kuda maupun unsur dua warna yang merupakan ciri masjid di Cordova.

12. Musik

    Seorang musikus Muslim bernama Abul Hasan Ali Ibn Nafis atau sering dipanggil Ziriyab telah mendirikan konservatorium musik-musik Andalusia. Sejak itu teori musik mulai dikembangkan oleh al-Farabi, yang menulis Kitab al-Musiki (Pegangan Musik).

Monday, March 15, 2021

Pengertian dan Kedudukan Disiplin Ilmu dalam Islam

 1. Konsep Islam tentang Ilmu

    Dalam pandangan Alquran, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul terhadap makhluk-makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahan (Q.S. al-Baqarah [2]: 31-32). Dalam Al-Qur'an, penjelasan tentang konsep ilmu terdiri dari dua macam. Yaitu :

a. Ilmu Laduni

    Ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia. Ilmu yang didapat dari hasil Taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah.

Sering kita mengalami suatu kondisi di mana ada bisikan di hati, nah itulah yang disebut ilmu laduni (tentunya ilmu laduni ini menunjukkan kepada kebaikan ya, kalau menjerumuskan ke hal-hal negatif berarti itu bisikan syaiton)

b. Ilmu Kasbi

    Ilmu yang diperoleh karena usaha manusia. Seperti kita mempelajari bagaimana proses perkembangbiakan mahkluk hidup.

2. Dalil Al-Qur'an dan As Sunnah terkait dengan ilmu

    a. Orang berilmu diangkat derajatnya

    Allah SWT berfirman : "...Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

    b. Orang berilmu takut kepada Allah SWT

    Dalam surat Fatir ayat 28, Allah SWT berfirman : "Dan demikian pula diantara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya dan jenisnya. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun."

    c. Orang berilmu akan diberi kebaikan dunia dan akhirat

    Dalam surat Al-Baqarah [2]: 269, Allah SWT berfirman : "Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)."

    d. Orang berilmu dimudahkan jalannya ke surga

وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

    Artinya: "Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim, no. 2699)

    e. Orang berilmu memiliki pahala yang kekal

    Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ia berkata kepada Rasullullah shallallahu'alaihi wa sallam:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ
 صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

    Artinya: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do'a anak yang sholeh" (HR. Muslim no. 1631)

3. Episteme ilmu dalam Islam berlandaskan Tauhid

    Epistimologi islam adalah ilmu yang membahas tentang hakekat sumber pengetahuan serta metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan dengan sudut pandang keislaman. Konsep tauhid diambil dari formula kalimat 'La ilaha illallah', dan kita tahu bahwa konsep tersebut telah menjadi prinsip dasar dalam ajaran Islam, dan kaitannya dengan integrasi ilmu, juga menjadi basis dari epistemologi Islam, sehingga menjadi asas pemersatu integrasi ilmu pengetahuan manusia.